Menyinari Langkah, Menyejukkan Jiwa

Latest Comments

No comments to show.

RESEP12

Ana lagi pengen searching
kata “al-mar’atu ‘imâdul bilâd”. Wanita itu tiang negeri.

Baru saja ana ketik sampai kata
المرأة عماد
…muncul sugesti lain dari google, seperti:

المرأة عماد البيت
المرأة عماد الأسرة
المرأة عماد المجتمع
المرأة عماد الدولة

Wah. Banyak sekali ternyata peran dan efeknya kaum wanita ini.
Mereka adalah tiang dari banyak bangunan.
Bangunan rumah tangga, bangunan keluarga, bangunan masyarakat hingga negara.

Mereka bisa membangun atau meruntuhkan pilar-pilar penting kehidupan.

Berarti mereka juga bisa membangun atau memporak-porandakan seisi jiwa kita dong ya. Hahaaai

Tapi mereka juga punya kelemahan. Telinga.

Mereka bisa menyala dan membara kalau diperdengarkan kata-kata yang memantik rasa.
Mereka juga bisa luluh lantak hancur berantakan jika mendengar kata-kata yang meremukkan batinnya.

Maka tugas kaum Adam adalah menghadirkan kata-kata manis, puitis dan magis di hadapan mereka, jika ingin terus berada di atas rel kehidupan yang benar.
Tak cukup hanya memberi logika. Tapi juga menyentuh mereka punya rasa.

Kebayang ya kalau Ustadz Nicko Pandawa menjadi pembina apel Senin pagi di hadapan mereka.
Mengulang mukaddimah amanat yang disampaikannya di banin kemarin:
“Kita berkumpul di bawah sinar mentari pagi yang menyapa dedaunan; dan embun-embun yang menyejukkan…”

Beeuuuuukh.

Bisa terbang melayang tuh mereka. Hingga ke langit ketiga.

Bukan untuk apa-apa.
Namun agar mereka dapat bergerak terus memutar roda kedisplinan dan spirit perjuangan sebagai santri.

Syaikh Taqiuddin An-Nabhani membedakan antara bahasa yang bercirikan pemikiran dan bahasa yang bercirikan sastra. Keduanya punya peruntukan yang berbeda.
Bahasa pemikirian digunakan untuk mencerdaskan. Sedangkan bahasa sastra digunakan untuk menggerakkan.

Keduanya, nampaknya ada di MSH.
Ketajaman pemikiran terus diasah selama 6 tahun.
Ketajaman rasa terus diolah di masa yang bersamaan.

Belasan tahun akan datang, saat umat membutuhkan, MSH siap ikut mensuplai SDM mujâhidah. Berapapun yang Imam butuhkan.
Imam Negara. Apalagi Imam keluarga. 🫠

MSH akan menjadi lumbung penghasil para mujâhidah.
Karena bertahun-tahun jiwa perjuangan dan perlawanan mereka dibangun.
Melawan lelap di jam 2 pagi, melawan kantuk usai subuh, melawan kemalasan pukul 7 pagi, melawan hasrat untuk makan sesuai selera, melawan segala kehendak demi berbakti pada orang tua, melawan setiap ego untuk ditundukkan di hadapan para guru dan Kyai. Tentu juga membangun tapal-tapal batas mata dan hati, yang dengan sabar dijaga, yang kelak kan hanya dipersembahkan ke mujahidin pilihan Allah.

Setiap kali berada di antara mereka, ada optimisme bahwa bisyârah Rasulullah ﷺ akan menemukan pembuktiannya. Di zaman mereka, atau di zaman generasi yang mereka kelak lahirkan.

Setiap kali berada di tengah-tengah majelis mereka, laksana berada di lautan bidadari surga, yang akan menemani Bunda Khadijah, Ummuna Aisyah Al-Humaira, Fatimah Az-Zahra nan jelita jiwanya, Maryam Al-Batûl Ibunda Nabi Isa ‘alaihissalâm, dan wanita kekasih Allah lainnya dalam Firdaus A’lâ.

Yaa Rabb. Amin.

RESEP (coREtan SElasa Pagi)
Zamroni Ahmad,
MSH, 11/11/2025

Coretan berikutnya berjudul: Ketika Wibawa Terangkat

CATEGORIES:

Resep

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *