Menyinari Langkah, Menyejukkan Jiwa

Latest Comments

No comments to show.

RESEP15

Ada moment-moment tertentu di mana santri semakin terbang dan melejit.

Seperti saat menyambut PHBI. Atmosfer prestasi dan segala capaian sangat terasa tajam meningkat.

Ada kekuatan yang mungkin terpendam, tiba-tiba meledak ketika dengar bahwa akan ada pembagian syahâdah saat PHBI.

Ada satu lagi, yang juga acap kali memacu para santri untuk semakin melejitkan diri, yakni ketika tiba pengumuman nama-nama yang ditugaskan menjadi penerima sorogan syarah zubad.

Mereka pun langsung menyandang inisial yang ‘sejajar’ dengan para Asatidzah.
Ada lah yang berinisial UIH, UHM, UUF, dll.
Serta merta naik marwahnya. Mâsyaallâh.

Hingga kini, ada puluhan santri, baik banin maupun banat yang menghiasi deretan daftar nama yang menyandang inisial tersebut. Dan aktif terlibat menerima sorogan syarah zubad.
Mereka bisa kita sebut Santri Asatidzah.
Dan teman-teman mereka sesama santri, yang notabene seumuran dengan mereka, pun menaruh kepercayaan untuk menampilkan sorogannya di hadapan Santri Asatidzah tersebut.

Yang terasa sekali adalah, para Santri Asatidzah itu, ketika tiba giliran mereka yang sorogan di hadapan Asatidzah ‘asli’, benar-benar nampak sur’atul badîhah. Cepat sekali berpikirnya.

Ana misalnya, beberapa kali bertemu case santri Asatidzah, baik banin ataupun banat, di mana sorotan mata ana baru sampai di satu kata tertentu, eh mereka sudah membaca dua tiga kata sesudahnya.

Itu kan kitab gundul.
Topiknya berat pula: fiqh.
Nah, ana masih mikir kata itu dibaca apa dan apa alasannya, eh…mereka sudah mengucapkan kata-kata berikutnya.
Sampai kadang ana katakan
“Sebentar, tahan dulu, ini bacaannya apa dan kenapa?”.
Dan mereka bisa menjawab dengan tegas tanpa ragu.
Malah kadang mereka yang lebih dulu memberitahu ana, sementara ana masih mikir dan bertanya dalam hati. Kadang pula mereka ‘mendebat’ ana. Mantap

Ana percaya, dengan tradisi sorogan ini akan sangat membantu santri untuk semakin meningkat kemampuan baca kitabnya.
Bahkan ada santri yang tergolong sangat lemah di bahasa Arab. Tapi rutin dan rajin selalu maju untuk sorogan, sekarang sudah jauh lebih baik.

Dan ana juga sangat percaya bahwa penugasan Santri Asatidzah ini salah satu pola terbaik yang menjembatani lahirnya para pembaca kitab yang handal.

Bermula mereka menjadi Santri Asatidzah, sebagai cikal bakal Santri Ulama.
Sebagaimana yang Ma’had dambakan, orang tua harapkan, bahkan umat rindukan kiprahnya.

Aduhai, sudah tak sabar, melihat bagaimana kondisi Indonesia dan dunia 20 tahun ke depan, dengan bertebarannya Santri Asatidzah kita yang menjelma menjadi Santri Ulama.

RESEP (coREtan SElasa Pagi)
Zamroni Ahmad,
MSH, 212-2025

Coretan berikutnya berjudul: Prestasi Berskala Internasional

CATEGORIES:

Resep

Tags:

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *